A.
Kondisi yang ada
Desa
desa yang berada di sekitar pengunungan Kendeng Selatan merupakan desa yang
memiliki alam yang masih alami. Pepohonan masih banyak terdapat di sana sini,
jalan yang berliku liku kadang menanjak kadang menurun, kanan kiri jalan masih
banyak pepohonan. Kalau kita melewati
jalan jalan yang ada di pegunungan Kendeng Selatan khususnya di Kecamatan
Somagede dan Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas tidak jarang kita jumpai
kanan kiri jurang. Terkadang kita juga jumpai perkampungan yang rata-rata
penduduknya mengandalkan dari hasil bercocok tanam di lahan tanah mereka yang
ditanami tanaman bermacam macam. Ada yang ditanami tanaman singkong, ada juga
yang ditanami pohon pisang, ada yang ditanami buah buahan, ada juga yang
ditanami tanaman keras seperti pohon albasia, pohon cengkeh, pohon karet, pohon
jati. Masyarakat desa di Kecamatan Somagede dan Kecamatan Sumpiuh Kabupaten
Banyumas yang berada di lembah pegunungan
Kendeng Selatan mengandalkan dari hasil pertanian, bercocok tanam, dan
perdagangan. Dari semua itu, masih adanya permasalahan-permasalahan yang timbul
di masyarakat desa.
Masyarakat di daerah sekitar pegunungan
Kendeng Selatan umumnya dan masyarakat desa di kecamatan Somegede dan Sumpiuh
pada khususnya merupakan masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai
petani, pedagang, pekebun, dan lain lain. Masyarakat yang perkampungannya
terletak pada pegunungan Kendeng Selatan pada umumnya mengandalkan hasil
perkebunan. Rata rata masyarakat di daerah pegunungan Kendeng Selatan adalah
masyarakat yang berpendidikan rendah. Mereka kesulitan biaya untuk melanjutkan
ke jennjang yang lebih tinggi. Pada masa sekarang, generasi muda masyarakat
tersebut rata rata setelah lulus dari SMU/SMK, mereka berorentasi untuk mencari
pekerjaan. Banyak pula dari para pemuda desa tersebut bercita-cita mendapat
pekerjaan di ibukota Negara. Mereka beranggapan bahwa ibukota Negara banyak
harapan yang dapat mereka wujudkan, banyak peluang pekerjaan bagi mereka.
Memang Jakarta adalah ibarat sebuah kota emas yang mereka tuju. Kenyataan
tersebut dapat menjadi salah satu kendala di desa. Kebanyakan dari mereka,
pemuda penerus bangsa tidak mau meneruskan profesi orang tua mereka sebagai
petani dan pekebun. Mereka menganggap bahwa pekerjaan sebagai petani merupakan
pekerjaan yang tidak menghasilkan uang. Mereka lebih memilih menjadi buruh
bangunan, buruh pabrik, buruh pertokoan, PRT bahkan sebagai TKI/TKW di luar
negeri. Padahal pertanian itu membutuhkan banyak sekali tenaga kerja, mulai
dari tahapan pengolahan tanah, masa tanam sampai masa panen. Ada kekawatiran,
jika para generasi muda lebih berorientasi lebih memilih menjadi buruh
bangunan, buruh pabrik, dan lain lain maka regenerasi profesi petani akan
terkendala.
Banyak desa di kecamatan Somagede dan
Kecamatan Sumpiuh lahan penduduk ditanami berbagai tanaman salah satunya pohon
kelapa. Sebagian masyarakat desa mengandalkan perekoniam mereka dari hasil
pohon kelapa. Sebagian mereka menjadi penderes kelapa yang kemudian dari hasil
penderes kelapa diolah menjadi gula kelapa. Gula kelapa yang sudah jadi
disetorkan ke pengumpul atau langsung dijual di pasar. Beberapa desa di
kecamatan Somagede dan Kecamatan Sumpiuh, penduduk desa memilih menanam pohon
durian di lahan mereka. Pada masa masa sekarang, pohon durian banyak sekali
permintaan, baik mulai dari bibit pohon durian, maupun buah durian. Beberapa
desa di kecamatan Somagede dan Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas menjadi
salah satu sentra penghasil durian.
Letak desa yang berada di daerah pegunungan
dan tidak dimungkinkannya dibuat persawahan, sehingga penduduk desa cenderung
mengandalkan dari hasil bercocok tanam di lahan tanah mereka. Sebagian dari
mereka memilih untuk menanam tanaman keras. Selain pohon durian dan pohon
kelapa, ada yang menanam pohon karet, pohon albasia, dan tanaman keras lainnya.
Beberapa lahan masyarakat dan perkampungan masyarakat yang berada di pegunungan
Kendeng Selatan masih terisolasi, akses jalannya masih berupa jalan tanah ataupun
jalan makadam. Ada juga sekolah dasar yang terletak di daerah pegunungan yang
akses jalan menuju ke sekolahan masih berupa jalan tanah ataupun jalan makadam.
Ketika musim hujan, menyulitkan masyarakat desa untuk melalui akses jalan tanah
tersebut. Jalan tanah yang basah biasanya licin sehingga menyulitkan kendaraan
yang melalui. Selain jalan tanah yang masih berupa tanah ada jalan yang kanan
kirinya berupa jurang sehingga menambah sulit untuk melalui jalan tersebut.
Belum lagi jika dilalui truk yang bermuatan berat sehingga membuat rusak jalan
tersebut. Pemerintah desa yang berada di daerah pegunungan Kendeng Selatan,
biasanya kesulitan untuk menangani masalah infrastruktur terutama jalan-jalan
tersebut. Kendala yang umum adalah kendala dana yang ada.
Kondisi desa yang berada di lembah pegunungan
Kendeng selatan baik yang berada di utara maupun yang berada di selatan
pegunungan tak jauh berbeda. Masih banyak infrastruktur yang harus dibangun
untuk memajukan perekonomian masyarakat desa. Masyarakat desa yang berada di
lembah pegunungan Kendeng selatan baik yang berada di utara maupun yang berada
di selatan pegunungan rata-rata mengandalkan dari hasil pertanian dan
perdagangan. Masih banyak areal persawahan di desa yang berada di lembah
pegunungan Kendeng selatan baik yang berada di utara maupun yang berada di
selatan pegunungan. Ada juga terdapat pasar baik desa yang berada di lembah
pegunungan Kendeng selatan baik yang berada di utara maupun yang berada di
selatan pegunungan. Berbagai upaya telah diusahakan untuk mendukung memperbaiki
perekonomian masyarakat desa. Salah satu cara memperbaiki perekonomian desa
adalah membangun dan memperbaiki infrastruktur yang ada di desa desa sekitar
pegunungan Kendeng Selatan yang berada di wilayah Kabupaten Banyumas.
B. Perlunya Peran Pemerintah
Kondisi yang ada di desa sekitar pegunungan
Kendeng Selatan di wilayah Banyumas memerlukan sebuah pembangunan yang memakan
banyak biaya, dan dari sini kita perlu membahas definisi pembangunan itu
sendiri. Pembangunan adalah suatu proses perubahan berbagai aspek kehidupan
menuju kondisi yang lebih baik. Efektifitas pembangunan sangat ditentukan oleh
sejauh mana proses yang dijalankan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat
dalam mencapai kemandirian dan kesejahteraannya. Mengingat sebagian besar
masyarakat/penduduk berada di pedesaan maka keberhasilan pembangunan desa,
secara umum akan berdampak pada keberhasilan pembangunan secara nasional. Dalam
rangka pelaksanaan pembangunan baik di tingkat pusat, daerah maupun desa,
diperlukan suatu system perencanaan pembangunan yang terpadu. Salah satu pendekatan dalam system
perencanaan pembangunan adalah pendekatan parsitipatif. Dimana pendekatan ini
melibatkan semua unsur atau pihak yang berkepentingan (Stakehorder) terhadap
pembangunan. Sesuai UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional (SPPN), secara sah menjamin kedaulatan rakyat dalam ikut merencanakan
pembangunan di berbagai program/proyek pembangunan desa.
Salah satu dari sekian
banyak program pembangunan masyarakat desa adalah Program Pembangunan
Infrastruktur Pedesaan (PPIP) yang merupakan program pembangunan yang diarahkan
untuk mendukung penanggulangan kemiskinan di daerah pedesaan. Program ini
dilaksanakan oleh Kementrian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Cipta
Karya. Selain PPIP Kementrian Pekerjaan Umum juga telah melaksanakan berbagai
program yang lain di antaranya adalah Program Kompensasi Pengurangan Subsidi
Bahan Bakar Minyak di bidang Infrastruktur Perdesaan (PKPS-BBM IP) pada tahun
2005, Sipas, Pamsimas dan lain-lain.
Program Pembangunan
Infrastruktur Perdesaan (PPIP) telah dimulai pada tahun 2007 dan masih berjalan
hingga tahun 2012. Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan atau yang
lebih dikenal dengan PPIP bertujuan untuk menciptakan dan meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat pedesaan. Upaya ini dilakukan baik secara individu maupun kelompok melalui
partisipasi dalam memecahkan berbagai permasalahan yang terkait kemiskinan
maupun ketertinggalan desanya dalam hal infrastruktur desa sebagai upaya
meningkatkan kualitas kehidupan, kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.
PPIP merupakan program
pembangunan masyarakat berbasis pemberdayaan di bawah payung PNPM Mandiri.
Program ini berupaya memberikan bantuan berupa Dana Bantuan Langsung Masyarakat
(BLM) melalui fasilitasi dan memobilisasi masyarakat dalam melakukan identifikasi
permasalahan kemiskinan, menyusun perencanaan dan melaksanakan pembangunan
infrastruktur desanya.
Dalam pelaksanaannya
PPIP terus meningkatkan kualitas pemberdayaan masyarakat dan peran stakeholder dalam pelaksanaan program.
Hal-hal tersebut dilakukan melalui:
1.
Peningkatan kepekaan dan kesadaran di semua
tingkatan melalui pelaksanaan Public
Awareness Campaign (PAC) yang optimal;
2.
Peningkatan kapasitas penyelenggara melalui
pelatihan yang akan diintegrasikan ke dalam system penyelenggaraan program;
3.
Pemantauan kinerja yang akan dilakukan secara
berjenjang dari tingkat pusat, propinsi, kabupaten, sampai ke tingkat terendah
di desa;
4.
Peningkatan partisipasi masyarakat secara aktif
dalam pelaksanaan program khususnya peran serta perempuan dan masyarakat kelompok
miskin, terutama dalam proses pengambilan keputusan;
5.
Penilaian kinerja yang dikaitkan dengan system,
penghargaan, dan sanksi bagi penyelenggara program, dari tingkat pusat,
propinsi, kabupaten, sampai ke tingkat desa berdasarkan kinerja dalam pelaksanaan
program; dan
6.
Penguatan mekanisme serta implementasi penanganan
pengaduan.
Upaya peningkatan
tersebut diharapkan dapat mendorong keterlibatan masyarakat secara optimal
dalam semua tahapan kegiatan mulai dari pengorganisasian masyarakat, penyusunan
rencana program dan penentuan kegiatan pembangunan infrastruktur perdesaan
serta pengelolaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar